Masjid Baiturrahman


Tahun 1972, pembangunan masjid terbesar dan termegah di Jateng saat itu, Masjid Baiturrahman, mengalami kebuntuan. Karena alasan kekurangan dana, masjid yang berlokasi di sisi barat Lapangan Pancasila Simpanglima Semarang harus terhenti.

Melihat persoalan tersebut Gubernur H Moenadi turun tangan, untuk melanjutkan dan menyelesaikan pembangunan. Dalam buku profil Yayasan Masjid Raya Baiturrahman Semarang; Dari Masa ke Masa terbitan tahun 2005 dengan penulis Drs H Soekendro dan Drs H Suharto, disebutkan Pengurus Yayasan melakukan serah terima tanggung jawab penyelesaian pembangunan masjid kepada Gubernur H Moenadi pada 7 Juli 1973. Oleh Gubernur, kepengurusan yayasan diubah dan diperkuat melalui akte notaris.

Kelanjutan pembangunan dilandasi modal dari Yayasan Masjid Candi sebesar Rp 564.685, serta biaya nikah, talak, rujuk (NTR), sumbangan perseorangan, bantuan Pemda Jateng, dan jasa giro.

Setelah diambil alih Gubernur, penyelesaiannya dilakukan dengan tender. Terpilihlah PT Pembangunan Teguh dengan menelan biaya Rp 216,739 juta. Biaya pembangunannya memanfaatkan kredit investasi tanpa bunga APBD Jateng tahun 1974/1975. Untuk pengembaliannya diperoleh sumbangan masyarakat jateng lewat dana sumbangan pembangunan dan pembinaan Sarana ibadah Agama Islam (SPPAI), yang pemasukan setiap tahunnya mencapai Rp 60 juta.

Akhirnya, Masjid Raya Baiturrahman diresmikan Presiden Soeharto pada 15 Desember 1974. Keberadaan masjid ini hingga sekarang menjadi kebanggaan warga Semarang, apalagi lokasinya berada di pusat kota. Bangunan masjid berbentuk limasan dan berdiri di atas lahan seluas 11.765 m2.

Pendirian masjid ini berperan strategis sebagai sarana memperkuat persatuan dan meningkatkan kerjasama umat Islam. Pada saat itu kesadaran ukhuwah islamiyah belum begitu terlihat dan juga belum ada wadah pemersatu MUI.

Masjid Baiturrahman tampil sebagai tempat ibadah yang representatif, bersifat keprovinsian, dan merupakan bangunan monumental di Jateng. Masjid itu memiliki 3 lantai: lantai balkon untuk ruang salat wanita, lantai 2 untuk ruang salat pria, dan lantai dasar memiliki fasilitas multifungsi untuk berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan ekonomi.

Saat ini Masjid Raya Baiturrahman tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah dan wadah berkumpulnya umat, melainkan juga pusat dakwah Islam. Bahkan di kompleks tersebut juga berkembang pesat lembaga pendidikan TK-SD H Isriati. Ia menjadi simbol oase religisiotas di tenagh-tengah aktivitas kapitalisme di gedung-gedung mal dan perkantoran yang mengelilinginya.

Keberadaan Masjid Baiturrahman tersebut pada awalnya tidak lepas dari perjuangan para pengurus Yayasan Masjid Candi (sekarang bernama Masjid Baiturrahim di Jl Merapi Candi Baru) sebagai cikal bakalnya.

Pada 1963, mereka mengajukan permohonan kepada Gubernur Moechtar (pejabat gubernur saat itu), yang kemudian disetujui pejabat pemerintahan, militer dan ulama.

Pembangunan masjid dimulai 10 Agustus 1968 dengan ditandai pemasangan tiang pancang untuk pondasi masjid sebanyak 137 buah.

HM Saefoedin, Ketua Badan Amalan Islam (BAI) Jateng yang juga mantan sekretaris yayasan pada awal berdirinya Masjid Baiturrahman, mengatakan tempat ibadah itu telah menjadi pusat aktivitas warga masyarakat.

Apalagi sejak berbagai aktivitas dihidupkan pada masa kepengurusan Moenadi. Ia menggagas adanya kuliah ahad pagi, grup drum band Arimbi, Ikamaba hingga TK-SD Isriati. (18)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: